google-site-verification=zsLknblUv9MPpbGfVx9l3sfhCtAjcEQGFzXwTpBAmUo Prospek Saham PTPP, WIKA, WSKT dan ADHI Pasca Corona Langsung ke konten utama

Prospek Saham PTPP, WIKA, WSKT dan ADHI Pasca Corona

Bisnis.com, JAKARTA – Kehadiran virus corona sebagai pandemi global dan merosotnya harga minyak dunia akan menjadi beban bagi pertumbuhan ekonomi, termasuk bagi sektor konstruksi dalam negeri.

Kepala Riset Praus Capital Alfred Nainggolan mengatakan dua hal ini akan menjadi tantangan bagi emiten badan usaha milik negara (BUMN) karya untuk mencatatkan kontrak baru. Pemberi proyek akan cenderung menahan diri dan menghitung kembali kemampuan belanja modal mereka.

“Kontrak dari swasta ataupun BUMN, kebanyakan kan mereka susun RKAP akhir 2019, dengan kondisi seperti ini ada kemungkinan untuk penundaan, cukup besar juga kemungkinannya. Bisa jadi bahwa beberapa proyek mengalami penundaan,” ujarnya kepada Bisnis, beberapa waktu lalu.

Dia mengatakan potensi kontrak yang berasal dari anggaran pendapatan dan belanja negara (APBN) masih berpotensi untuk dilanjutkan. Namun, khusus untuk proyek dengan skema turnkey, emiten harus bisa mengamankan arus kas dengan mencari pendanaan baru guna mendanai proyek tersebut.

Alfred menilai, proyek turnkey masih dipandang sebagai salah satu proyek yang layak dibiayai oleh perbankan, apalagi di tengah seretnya penyaluran kredit seperti saat ini.

“Bagi perbankan untuk disuplai dari anggaran pemerintah akan lebih safe, untuk saat ini tidak begitu bermasalah bagi perbankan kita, apalagi sekarang mereka sulit untuk salurkan kredit, kalau melihat kondisi ekonomi seperti ini,” jelasnya.

Di sisi lain, dia menilai pandemi global ini juga akan memberatkan emiten BUMN karya dari sisi pasokan bahan baku dan material. Hal ini juga dapat berujung pada penundaan pengerjaan sejumlah proyek yang masih dikerjakan. Risiko dari aspek material berpotensi membuat beban BUMN karya tambah berat.

Dari empat BUMN karya yang ada, menurutnya PT PP (Persero) Tbk. (PTPP) dan PT Wijaya Karya (Persero) Tbk. (WIKA) menjadi dua emiten yang masih layak dikoleksi. 

Kedua emiten ini dinilai memiliki kinerja fundamental yang masih lebih baik dibandingkan tiga emiten konstruksi lain, yaitu PT Adhi Karya (Persero) Tbk. dan PT Waskita Karya (Persero) Tbk. 

Sementara itu, Janson Nasrial, Senior Vice President Research PT Kanaka Hita Solvera mengatakan bahwa pandemi global virus corona akan membuat pengerjaan proyek mundur dua hingga tiga kuartal. Hal ini akan membuat realisasi pendapatan emiten BUMN karya berpotensi mengalami penurunan.

Di luar kinerja operasional, Janson menilai perbaikan harga saham emiten konstruksi pelat merah lebih penting. Hal ini bisa didongkrak salah satunya lewat aksi pembelian kembali atau buyback. 

Jika harga saham dibiarkan terus terperosok, emiten dinilai akan kesulitan menggalang dana dari pihak ketiga.

“Kalau harga saham Bumn Karya dibiarkan terpuruk, nanti mereka mau cari cari external financing jadi susah, bank juga memandang kok manajemen tidak percaya diri terhadap kinerja perusahaan,” jelasnya kepada Bisnis, Jumat (13/3/2020).

Sementara itu, Analis Kresna Sekuritas Andreas Kristo Saragih mengatakan virus corona dipastikan akan memberi dampak negatif bagi kinerja emiten BUMN karya. Namun demikian, menurutnya masih sulit untuk memprediksi secara pasti dampak yang mungkin terjadi pada emiten-emiten itu.

“Untuk dampak virus corona, saya kira pasti ada gangguan. Tetapi masih belum bisa kita ukur berapa besar dampaknya. Sejauh ini belum ada gambaran, kita harus tunggu result kuartal I/2020,” ujarnya kepada Bisnis, Jumat (13/3/2020).

Meski begitu, dia mengatakan pihaknya belum menetapkan perubahan rekomendasi kepada tiap-tiap emiten BUMN karya. Menurutnya, semua emiten tersebut masih layak untuk dikoleksi. Namun, perhitungan ini belum memasukkan potensi dampak dari virus corona.

Berdasarkan kondisi saat ini, menurutnya WIKA dan ADHI masih menjadi top picks di antara BUMN karya. Dia menilai, dua emiten ini memiliki rencana aksi korporasi cemerlang dalam memperkuat ekuitas masing-masing. 

Adapun, target harga untuk masing-masing emiten ini adalah Rp2.670 per saham dan  Rp2.120 per saham.

Berdasarkan konsensus yang dihimpun Bloomberg, WIKA dan PTPP memiliki target harga paling tinggi. Masing-masing emiten ini memiliki target harga 12 bulan sebesar Rp2.600 per saham dan Rp1.951 per saham. Dua emiten ini juga mendapatkan persentase rekomendasi beli terbesar dari analis.

Komentar

Saham Online di Facebook

Postingan populer dari blog ini

Apa Itu Pasar Saham dan Bagaimana Cara Kerjanya?

Apa Itu Pasar Saham dan Bagaimana Cara Kerjanya?   Pasar saham adalah salah satu pilar utama ekonomi global yang memungkinkan individu, perusahaan, dan pemerintah untuk berpartisipasi dalam aktivitas jual beli saham dari perusahaan publik. Tapi apa sebenarnya pasar saham itu, dan bagaimana cara kerjanya? Dalam artikel ini, kita akan membahas secara mendalam tentang dasardasar pasar saham, cara kerjanya, dan bagaimana hal ini memengaruhi keuangan serta investasi Anda.   Memahami Pasar Saham   Pasar saham adalah tempat di mana investor dapat membeli dan menjual kepemilikan saham dari perusahaanperusahaan yang terdaftar di bursa efek. Saham, atau biasa disebut "stocks," mewakili bagian kepemilikan dari sebuah perusahaan. Ketika Anda membeli saham, Anda memiliki sebagian kecil dari perusahaan tersebut, yang memberi Anda hak atas sebagian keuntungan dan aset perusahaan.   Komponen Utama Pasar Saham 1. Bursa Efek (Stock Exchanges):   Transaks...

Rekomendasi Saham BBRI, GGRM, DRMA dan ACST oleh RHB Sekuritas Indonesia | 26 Oktober 2023

RHB Sekuritas Indonesia 26 Oktober 2023 Muhammad Wafi PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) Bank Rakyat Indonesia terlihat kembali melakukan rebound disertai volume dan menguji resistance garis MA20 sekaligus resistance bearish channel-nya. Jika mampu breakout resistance garis MA20 maka akan mengkonfirmasi sinyal reversal dari fase bearish untuk menguji resistance garis MA50. Rekomendasi: Buy area disekitar Rp 5.125 dengan target jual di Rp 5.325 hingga Rp 5.575. Cut loss di Rp 5.000. PT Gudang Garam Tbk (GGRM) Gudang Garam terlihat melakukan rebound dan breakout resistance garis MA50 disertai volume dan menguji resistance garis MA20. Jika mampu breakout resistance garis MA20 maka akan mengkonfirmasi sinyal breakout menuju fase bullish dan menguji level tertingginya di bulan Oktober 2023. Rekomendasi: Buy area disekitar Rp 24.800 dengan target jual di Rp 25.375 hingga Rp 26.650. Cut loss di Rp 24.525. PT Dharma Polimetal Tbk (DRMA) Dharma Polimetal terlihat melakukan rebound d...

BELAJAR SAHAM di SAHAM ONLINE

Untuk rekan-rekan yang hendak BELAJAR INVESTASI SAHAM atau TRADING SAHAM, rekan-rekan bisa akses materi pembelajaran terkait dengan mudah dan gratis melalui link di bawah ini WEBSITE SAHAM ONLINE - BELAJAR SAHAM untuk inspirasi dalam investasi saham, rekan-rekan juga bisa baca beberapa artikel melalui link berikut ini WEBSITE SAHAM ONLINE - INSPIRASI SAHAM sedangkan jika rekan-rekan lebih tertarik untuk belajar investasi atau trading saham melalui VIDEO TUTORIAL yang tertata berdasarkan topik sudah terbagi menjadi beberapa playlist, rekan-rekan bisa akses di link berikut ini CHANNEL YOUTUBE SAHAM ONLINE